Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » BERITA TERKINI » Kewarisan Orang Yang Mati Bersama

Kewarisan Orang Yang Mati Bersama

(85 Views) November 18, 2012 6:04 am | Published by | No comment
A. Latar Belakang
Dalam hal pembahasan waris, terdapat berbagai macam masalah yang terjadi dan juga banyak pembahasan solusi mengenai masalah yang terjadi tersebut, karena terdapat banyak masalah atau kasus yang terjadi dalam hal waris inilah mengapa ilmu waris atau fikih mawaris ini menjadi salah satu ilmu yang menarik untuk di telaah lebih dalam. Masalah-masalah yang terjadi dalam hal waris di antaranya, masalah aul, Al-radd, waris anak dalam kandungan, waris khuntsa musykil, waris orang hilang, waris orang mati bersama-sama, dll. Masih banyak lagi masalah yang terjadi yang penulis tidak bisa menyebut kan satu persatu. Dalam makalah ini kami akan membahas masalah mengenai “Warisan Orang yang Mati Bersama-sama”. Kasus ini maksudnya adalah orang yang meninggal bersama-sama, missal mati tenggelam atau yang lainnya, dan tidak diketahui siapa yang mati terlebih dahulu. Penjelasan lebih lanjut akan dibahas dalam makalah ini.
A. Kewarisan Orang yang Mati Bersama 
Dalam hal waris terjadinya hubungan kewarisan antara dua orang yang mempunyai hubungan kerabat atau perkawinan itu ialah bila keduanya mati dalam waktu berbeda. Yang terdahulu mati disebut pewaris dan yang mati kemudian disebut ahli waris . Hal seperti sudah lumrah dan jelas hukumnya, yaitu orang yang mati kedua, dapat mewarisi harta waris orang yang pertama, baik sendirian atau bersama. Setelah orang yang kedua meninggal, harta warisannya berpindah kepada ahli waris selanjutnya, begitu seterusnya. Jadi, apabila ada dua orang bersaudara tenggelam dan salah seorang mati lebih dahulu, sedangkan yang lainnya beberapa saat kemudian, saudara yang terakhir mati berhak mendapat warisan orang yang mati lebih dahulu, walaupun tenggang waktunya hanya sekejap. Hal tersebut karena syarat-syarat kewarisan telah terpenuhi, yaitu ahli warisnya benar-benar hidup setelah muwarist-nya meninggal dunia . Ada suatu masalah yang bakal mencuat, yaitu keadaan dimana tanggal atau waktu kematian tidak diketahui. Dan ini terjadi terhadap dua orang yang mempunyai hubungan kerabat. Dalam menentukan kewarisan orang yang mati bersama ini para ulama tidak dapat memastikan apakah keduanya mati secara bersamaan atau bergantian. Seandainya mungkin mati bergantian tidak dapat diketahui mana yang dahulu dan mana yang kemudian. Inilah yang menimbulkan masalah dan para ulama juga berbeda pendapat dalam menentukan hak kewarisannya . B. Pendapat Ulama Fiqh Tentang Kewarisan Orang yang Mati Bersama Dalam kasus kewarisan orang yang mati bersama ini para ulama fiqh mengatakan “Tidak boleh saling mewarisi di antara orang-orang yang sama-sama mati tenggelam dan orang-orang yang sama-sama mati tertimpa bencana, dan tidak boleh saling mewarisi diantara para ahli waris yang ditimpa malapetaka”. Pendapat ini dikemukakan oleh Jumhur, atas dasar hadist yang diriwayatkan oleh Kharijah bin Zaid bin Tsabit dan ayahnya mengatakan “Abu Bakar ash-Shiddiq r.a telah memerintahkan kepadaku untuk membagikan harta peninggalan para korban perang yamamah. Kemudian aku membagikan harta peninggalan kepada keluarga-keluarga si korban yang masih hidup dan aku tidak membagikan harta peninggalan kepada para korban itu sendiri satu sama lain. Dan aku diperintah oleh Umar r.a untuk membagikan harta peninggalan para korban penyakit tha’un amwas (wabah besar) di mana saat itu qabilah mati karenanya. Kemudian aku membagikan harta peniggalan kepada keluarga-keluarga si korban yang masih hidup, dan aku tidak membagikan harta peninggalan kepada para korban itu sendiri satu sama lain”. Alasan yang menjadi penyebab mereka tidak saling mewarisi karena syarat-syarat waris (Siapa muwaris dan siapa ahli waris) tidak jelas. Dengan demikian, masing-masing harta warisan mereka diberikan kepada masing-masing ahli waris nya yang masih hidup. Salah seorang di antara mereka tidak boleh saling mewarisi satu sama lain. Dikatakan dalam kitab Rahbiyyah bahwa, apabila suatu kaum mati ditimpa bencana, atau tenggelam atau malapetaka lainnya yang biasa terjadi, seperti kebakaran, dan tidak diketahui siapa diantara mereka yang meninggal terlebih dahulu, di antara mereka yang binasa itu tidak boleh saling mewarisi dan mereka dianggap sebagai bukan keluarga. Sebuah contoh: “ Dua orang bersaudara mati bersama dan salah seorang diantara keduanya meninggalkan istri, seorang anak perempuan dan seorang anak laki-laki dari paman sekandung. Adapun saudaranya yang lain meninggalkan dua anak perempuan dan seorang anak laki-laki paman sekandung tersebut. Pembagiannya adalah istri saudara yang pertama diberi 1/8, seorang anak perempuan diberi ½, dan sisanya untuk anak laki-laki paman sekandung dengan jalan ashabah. Adapun dari saudaranya yang kedua, warisan jatuh kepada kedua orang anak perempuanya 2/3 bagian, sedangkan sisanya untuk anak laki-laki dari paman sekandung ” . Dalam kitab al-Qawaid, juga dalam kitab yang lain, di tetapkan bahwa orang yang mati tenggelam, atau tertimpa reruntuhan, dan tidak di ketahui siapa di antara mereka yang mati terlebih dahulu, maka masing-masing mereka mewarisi dari yang lain bila keduanya sama-sama mempunyai harta. Bila seseorang tidak mempunyai harta, maka keduanya tidak saling mewarisi melainkan orang yang berharta, warisannya di serahkan kepada ahli warisnya yang masih hidup. Jelaslah, bahwa keduanya di syaratkan mewarisi hubungan pewarisan. Tetapi Imammiyah mensyaratkan bahwa setiap pihak dari keduanya mewarisi pihak yang lain. Karena itu, bila satu pihak saja yang mewarisi sedangkan pihak yang lain tidak, seperti dua orang bersaudara yang mati bersama-sama karena tenggelam atau tertimpa reruntuhan, di mana yang seorang mewarisi dari yang karena yang lain ini tidak mempunyai anak, sedangkan yang lain ini tidak mewarisinya karena dia mempunyai anak, maka tidak lah terjadi pewarisan antara mereka berdua. Warisan setiap orang dari mereka di serahkan kepada ahli waris masing-masing yang masih hidup. Jika syarat-syarat tersebut terpenuhi. Maka setiap pihak mewarisi setiap harta pihak yang lainyang dimilikinya sebelum ia tenggelam atau tertimpa reruntuhan. Yakni, satu pihak tidak mewarisi dari pihak yang lain apa yang di warisi dari pihak lain itu darinya. Inilah pendapat yang tepat dalam mazhab. Hukum ini, yaitu adanya pewarisan antara orang yang mati secara bersama-sama karena tenggelam atau tertimpa reruntuhan, di sepakati di kalangan mereka. Lalu, apakah di analogikan (di kiaskan) kepada hal itu pula orang-orang yang mati dalam keadaan seperti itu, seperti orang yang mati karena kebakaran atau terbunuh dalam peperangan, dan semisalnya? Mereka berpendapat bahwa orang yang mati tanpa di ketahui siapa di antara mereka yang mati terlebih dahulu, bila kematian itu bersifat wajar atau alami, maka tidak terjadi pewarisan di antara mereka, sebagian ulama mengklaim bahwa pendapat ini merupakan ijma di kalangan mereka, tetapi sebenarnya tidak, melainkan hanya merupakan pendapat mayoritas. Terjadi perbedaan pendapat terhadap orang-orang yang mati karena kebakaran atau karena terbunuh dengan sebab yang lain. Apakah mereka di samakan dengan orang yang mati tenggelam atau tertimpa reruntuhan? Sebagian fuqaha imamiyah menyamakan mereka dengan orang yang mati tenggelam atau tertimpa reruntuhan, tetapi sebagian besar mereka tidak menyamakan. Mereka dianggap seperti orang yang mati biasa(wajar atau alami) yang tidak di ketahui tanggal atau waktu kematiannya. Pokok dalam masalah ini adalah riwayat dari imam Ali ra, dimana beliau di Tanya tentang dua orang yang mati tenggelam atau tertimpa reruntuhan, lalu beliau menjawab bahwa mereka berdua saling mewarisi. Jawaban beliau ini merupakan hujjah yang harus di ikuti dalam hal orang-orang yang mati tenggelam atau tertimpa rerutuhan. Hal ini menurut mereka tidak sesuai dengan prinsip asal. Sebab, perinsip asal menyatakan bahwa untuk terjadinya pewarisan, maka harus ada dengan jelas kehidupan ahli waris pada saat kematian pewaris, baik secara hakiki maupun secara hukum, bila tidak maka tidak ada pula pewarisan di antara mereka berdua. Bila ucapan Imam Ali ra tersebut tidak sesuai dengan prinsip asal, apakah dapat dikiaskan kepadanya kasus lain yang serupa dengannya? Sebagian mereka berpendapat bahwa boleh memberlakukan hukum tersebut pada kasus orang-orang yang mati dalam keadaan seperti itu, seperti kebakaran atau keracunan, sedangkan sebagian yang lain melarang pengkiasan tersebut . Pendapat yang di atas ini, di ikuti oleh Imam bin Hanbal, Iyas, Atha’ dan Ibnu laila, dengan syarat tidak terdapat dakwaan (klaim) dari ahli waris setiap seorang dari mereka berdua yang masih hidup bahwa pewaris merekalah yang mati pertama kali. Tetapi kalau para ahli waris tersebut mengaku-ngaku atau mengklaim tentang siapa yang mati terlebih dahulu tanpa bukti atau dengan bukti tetapi saling tolak oleh masing-masing pihak, maka dalam keadaan seperti ini beliau sependapat dengan pendapat mazhab pertama yang bersumber dari Zaid bin Tsabit r.a. 
BAB III PENUTUP 
A. Kesimpulan 
Kewarisan orang yang mati bersama ini terjadi apabila pewaris dan ahli waris mati dalam waktu bersamaan atau tidak diketahui siapa yang lebih dahulu meninggal antara keduanya. Dalam pewarisan antara ahli waris yang tidak diketahui siapa diantara mereka yang mati terlebih dahulu, jika di antara mereka terdapat sebab-sebab pewarisan maka menurut mayoritas Muslimin ada dua pendapat: Pertama, pendapat Hanafiyah, Malikiyah, dan Syafi’iyah yang mengatakan tidak ada pewarisan di antara mereka, dan warisan itu hendaklah diberikan kepada setiap ahli waris yang masih hidup. Kedua, mereka selalu saling mewarisi, dengan dengan syarat tidak terdapat dakwaan (klaim) dari ahli waris setiap seorang dari mereka berdua yang masih hidup bahwa pewaris merekalah yang mati pertama kali. Tetapi kalau para ahli waris tersebut mengaku-ngaku atau mengklaim tentang siapa yang mati terlebih dahulu tanpa bukti atau dengan bukti tetapi saling tolak oleh masing-masing pihak, maka dalam keadaan seperti ini beliau sependapat dengan pendapat mazhab pertama yang bersumber dari Zaid bin Tsabit r.a. 
Daftar Pustaka 
Ahmad Saebani. Beni. Fiqih Mawaris. Pustaka Setia. Bandung. 2009 Syarifuddin. Ahmad. Hukum Kewarisan Islam. Kencana. Jakarta. 2012 Rahman. Fatchur. Ilmu Waris. PT al-Ma’arif. Bandung. 1971 Abu Zuhrah. Muhammad. Hukum Waris Menurut Imam Ja’far Shadiq. Lentera. Jakarta. 2001
Categorised in: ,

No comment for Kewarisan Orang Yang Mati Bersama

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *