Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » HUKUM » Kewarisan Anak Dalam Kandungan

Kewarisan Anak Dalam Kandungan

(92 Views) November 20, 2012 10:41 pm | Published by | No comment
Islam merupakan agama yang sempurna, mengatur sebagai aspek hidup dan kehidupan, baik yang menyangkut segala sesuatu yang berhubungan dengan Allah SWT. Maupun terhadap sesama umat manusia. Melalui ayat-ayat dan Hadis Nabi saw. Telah menjelaskan secara detail mengenai berbagai aturan dimaksud, satu diantaranya adalah masalah yang berhubungan dengan kewarisan Ketentuan tentang persoalan waris mewarisi ini adalah manifestasi dari pengakuan adanya hak milik perorangan, baik terhadap harta bergerak ataupun tidak bergerak,karena secara otomatis hukum mengakui adanya perpindahan hak dan kepemilikan si pewaris kepada ahli warisnya, ketika terjadinya peristiwa kematian Adakalanya seseorang meniggal dunia dengan meninggalkan ahli waris yang masih dalam kandungan.
Siapa pun tindak mengetahui apakah anak yang sedang dikandung tersebut akan lahir dengan selamat atau sebaliknya meninggal dunia, laki-laki atau perempuan, tunggal atau kembar. Anak yang ada dalam kandungan seorang perempuan (ibu) berbeda dalam ikatan perkawinan yang sah menurut syariat. Hal ini yang didasarkan pada hadis yang diriwayatkan Abu Daud, dimana Rasulullah saw. Mengatakan bahwa “apabila menangis anak yang baru lahir , maka dia mendapat warisan pula”. Ini berarti, bahwa kalau anak yang ada dalam kandungan seorang perempuan (ibu) tersebut lahir dengan selamat, namun beberapa saat kemudian meniggal dunia, maka anak tersebut tidak (akan) mempunyai hak kewarisan.
ANAK DALAM KANDUNGAN Apabila seseorang meniggal dan diantara ahli warisnya terdapat anak yang masih dalam kandungan atau istri yang sedang menjalankan masa iddah dalam keadaan mengandung atau kandungan itu tidak memperoleh warisan bil fi’li karena hidupnya ketika mewaris meninggal tidak dapat dipastikan. Akan tetapi, ikhtiyat demi memelihara haknya, bagiannya di mauquf-kan sampai ia lahir karena kemungkinan adanya bukti bahwa ia dalam keadaan hidup ketika mewarisnya meninggal. Misalnya, ia dilahirkan dalam waktu yang tepat diyakini atau dapat diduga kuat dalam kelahirannya bahwa ia telah ada ketika mewarisnya meniggal.
Dalam memberi pusaka kepada anak yang masih dalam kaandungan, perlu diperhatikan mana yang lebih maslahat dan mana yang lebih bermanfaat baginya. Oleh karena itu, apabila para ahli waris tidak membatalkan pembagian harta peniggalan sampai kandungan itu dilahirkan, simpanlah bagian-bagian untuknya yang sempurna dengan anggapan bahwa ia laki-laki atau perempuan, jika ia seseorang ahli waris yang berbeda pembagiannya dengan dua macam anggapan itu. Jika bagiannya satu, baik ia dianggap laki-laki atau perempuan, maka disimpanlah satu bagian untuknya. Begitu juga ia menjadi ahli waris dengan salah satu perkiraan tidak dengan yang lain, maka dia dipandang ahli waris yaang perlu dipelihara bagiannya.
Sayyid Sabiq mengemukakan, bahwa apabila kandungan itu lahir dalam keadaan mati bukan karena tindak pidana yang dilakukan terhadap ibunya, maka menurut kesepakatan dia tidak mewarisi dan tidak pula diwarisi. Namun bila dia lahir dalam keadaan mati disebabkan tindak pidana yang dilakukan terhadap ibunya, maka dalam keadan demikian dia mewarisi dan diwarisi menurut orang-orang Hanafi.
Sedangkan aliran Syafi’i, Hambali dan Malik berpendapat bahwa dia tidak mewarisi sedikit pun, akan tetapi dia mendapatkan ganti rugi saja karena darurat serta tidak mendapatkan selain itu. Ganti rugi ini diwarisi oleh setiap orang yang berhak mendapat warisan darinya. Al-Laitas bin Sa’d dan Rabi’ah bin ‘Abdurrahman berpendapat bahwa janin itu bila lahir dalam keadaan mati disebabkan tindak pidana terhadap ibunya, maka dia tidak mewarisi dan tidak pula diwarisi; akan tetapi ibu mendapatkan ganti rugi . Ganti rugi itu diberikan kepada ibunya, karena tindak pidana itu menimpa sebagian dari dirinya.
SYARAT-SYARAT UNTUK MEMPEROLEH WARIS Anak yang masih dalam kandungan ibunya termasuk ahli waris yang berhak menerima warisan sebagaimana ahli lainnya. Untuk merialisasikan hak kewarisannya, di perlukan syarat-syarat berikut.
a. Ketika orang yang mewariskan meninggal, ia sudah berwujud didalam rahim ibunya. Waris mewarisi ditunjukan untuk menggantikan kedudukan orang yang sudah meninggal dalam kepemilikan harta bendanya. Sekiranya ia belum berwujud, sudah tentu tidak tergambar adanya penggantian yang dimaksud. Tingkatan yang seminimal-minimalnya sebagai seorang pengganti ialah ia harus berwujud, walaupun masih berada dalam kandungan ibunya. Ini karena seperma yang berada didalam rahim itu, selagi tidak hancur, mempunyai zat hidup sehingga ia dihukumi dengan hidup.
b. Dilahirkan dalam keadaan hidup Ini disyariatkan untuk menyakinkan bahwa kandungan itu benar-benar hidup ketika orang yang mewariskan meninggaal. Ketika masih dalam kandungan, walaupun sudah dianggap hidup , itu bukanlah hidup yang sebenarnya. Kelahirannya dalam keadaan hidup tenggang waktu yang telah ditentukan oleh syariat islam merupakan bukti yang nyata atas perwujudan ketika orang yang mewariskan meninggal. Menyangkut kemungkinan pendapatan / bagian anak yang masih dalam kandungan ibunya ada beberapa kemungkinan , yaitu
1. Tidak menerima warisan sama sekali, baik ia sebagai laki-laki atau perempuan . Misalnya : seorang suami meninggal dunia mininggalkan isteri, ayah dan seorang ibu yang sedang hamil ( anak dari suami yang kedua ) dalam hal seperti ini anak yang masih dalam kandungan ibunya tersebut tidak perlu dihiraukan, sebab kalaupun ia ahli waris ( baik laki-laki ataupun perempuan ) keberadaannya sebagai ahli waris terhalang oleh ayah si mayat.
2. Hanya mewarisi dengan salah satu dari dua kemungkinan, yaitu sebagai laki-laki atapun perempuan, dan tidak mewarisi dengan kemungkinan yang lainnya. Misalnya : seorang laki-laki meninggal dunia, dan meninggal seorang isteri, saudara bapak kandung ( paman ) dan seorang isteri dari saudara kandung yang sedang hamil. Dalam kondisi seperti ini istri diberi bagian ¼, sedangkan sisanya yang ¼ ditangguhkan pembagiannya sampai bayi tersebut lahir. Dan apabila bayi yang lahir tersebut laki-laki maka dia dapat bagian dari harta warisan tersebut dan ia lebih utama ( menghalang ) paman, dan apabila anak yang lahir tersebut perempuan, maka pamanlah yang berhak, sebab anak perempuan dari saudara laki-laki kandung bukan ahli waris .
3. Dapat mewarisi dengan segala kemungkinan, baik ia sebagai laki-laki atau perempuan Misalnya : seorang laki-laki yang meninggal dunia, dan meninggalkan istri yang sedang hamil ayah dan ibu.
4. Dapat mewarisi, dan tidak pula berbeda jumlah bagiannya, baik ia sebagai laki-laki atau sebagai perempuan Misalnya : seorang mati meninggalkan seorang saudara perempuan kandung, saudara perempuan seayah, dan seorang ibu yang sedang hamil dari suami yang bukan ayah si meninggal, kalau ia lahir statusnya hanya sebagai saudara seibu, apabila saudara seibu, bagian laki-laki dan perempuan sama besarnya.
5. Tidak bersama dengan ahli waris yang pokok, atau bersama dengan ahli waris yang terhalang olehnya. Misalnya: seorang laki-laki meninggal dunia dan meninggalkan menantu (istri dari anaknya) yang sedang hamil dan saudara seibu. Dalam hal seperti ini pembagian harta warisan harus ditangguhkan sampai anak yang dalam kandungan tersebut dilahirkan.
Masa Kandungan untuk Pusaka Rahim Untuk menetapkan perwujudan bayi didalam rahim ibunya, perlu diperhatikan hal berikut:
a. Tenggang waktu yang sependek-pendeknya antara akad pernikahan dengan kelahiran anak.
1. Menurut para imam mazhab telah bersepakat bahwa tenggang waktu yang paling pendek untuk kandungan adalah 6 bulan. Pendapat mereka bertitik tolak pada jalan pikiran Ibnu Abbas r.a yang mengisbatkan firman Allah SWT dalam surah Al-ahraf ayat 15:
Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila Dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang berserah diri”.
2. Menurut ulama Hanabilah mentapkan bahwa sependek-pendeknya orang mengandung adalah 9 bulan. Dari pendapat para imam mazhab diatas banyak diikuti dan diamalkan oleh sahabat-sahabat besar yang lebih kompeten dalam menginterprestasikan Al-Qur’an.
b. Tenggang waktu yang sepanjang-panjangnya antara putusnya perkawinan dengan kelahiran anak. 1. Ulama-ulama Hanafiyah menetapkan bahwa tenggang waktu yang sepanjang-panjangnya adalah dua tahun, dengan alasan sabda Rasulullah SAW : ماتزيد المراة فى الحمل على سنتين بقدر ما يتحول ظل عمود المعزل (رواه الدار قطنى والبيهقى) Artinya: “ Wanita tidak menambah masa kandungannya lebih dari dua tahun dengan sepergeseran bayang tihang berdiri”. ( HR. Daruquthni dan Baihaqi). Jumhur ulama berpendapat apabila di antara para ahli waris menghendaki diadakan pembagian harta warisan dengan tidak menunggu ahli waris yang ada dalam kandungan dilahirkan, maka untuk jumlah bagian yang harus ditahan untuk diberikan dikemudian hari bila anak tersebut lahir dengan selamat sebagai berikut:
a. Bila ia mewarisi bersama-sama dengan orang yang tidak akan menerima pusaka, maka tidak diberikan sedikit pun, karena anak dalam kandungan dikira-kirakan yang bakal lahir laki-laki menerima seluruh harta secara usubah.
b. Bila ia mewarisi bersama-sama dengan ahli waris yang furudhul muqaddarah-nya tidak pasang surut, maka ahli waris tersebut menerima pusaka sesuai dengan bagiannya masing-masing dan anak dalam kandungan menerima sisanya yang ditahan untuknya.
c. Bila ia mewarisi bersama-sama ahli waris yang furudhul muqaddarahnya dapat pasang surut, maka ahli waris tersebut diberikan bagian sesuai dengan furudhul-nya yang terkecil dan anak dalam kandungan diberikan bagian yang terbesar di antara dua perkiraan laki-laki dan perempuan tersebut (fatchur Rahman,1975:211-212).
Beberapa Contoh dan Penyelesaiannya Seorang meninggal, ahli warisnya terdiri atas ayah dan isteri yang sedang mengandung (kandungan disini adalah anak laki-laki atau perempuan). Harta peninggalannya sejumlah Rp. 48.000,00. Bagian masing-masing adalah:
1. Jika diperkirakan laki-laki: Ahli Waris Fard Asal Masalah:24,sahamnya Penerimanya Ayah 1/6 1/6 x 24 = 4 4 x 48.000,00 24 Rp. 8.000,00 Isteri 1/8 1/8 x 24 = 3 3 x 48.000,00 24 Rp. 6.000,00 Anak laki-laki Asabah 24 – 7 = 17 17 x 48.000,00 24 Rp. 34.000,00 2. Jika diperkirakan perempuan; Ahli Waris Fard Asal Masalah;24, sahamnya Penerimanya Isteri 1/8 1/6 x 24 = 4 4 x 48.000,00 24 Rp. 8.000,00 Anak ½ ½ x 24 = 3 3 x 48.000,00 24 Rp. 6.000,00 Ayah 1/6 + 1/6 x 24 + 5= 9 9 x 48.000,00 Asabah 24 Rp. 18.000,00 Di antara dua perkiraan tersebut ternyata jika kandungan itu diperkirakan laki-laki, pendapatnya lebih banyak jika dibandingkan dengan diperkirakan perempuan. Oleh karena itu, jumlah yang harus ditahan adalah sejumlah diperkirakan laki-laki, yaitu Rp. 34.000,00.
Categorised in: ,

No comment for Kewarisan Anak Dalam Kandungan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *