Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » BERITA TERKINI » ‘Urf

‘Urf

(92 Views) Desember 9, 2012 11:41 pm | Published by | No comment

Met pagi sobat blogger, selamat berkatifitas kembali dah buat semua sahabat blogger! pagi yang cerah ini saya akan menuliskan mengenai salah satu kajian Ushul Fiqih, yaitu “urf, apa yaa ‘urf  itu? oke kita bahas di bawah ini, selamat membaca sobat blogger.

Secara etimologi, urf berarti “yang baik”. Para ulama ushul fiqih membedakan antara adat dengan Urf dalam membahas kedudukannya sebagai salah satu dalil untuk menetapkan hukum syara’. Adat di definisikan dengan : “ sesuatu yang di kerjakan berulang-ulang tanpa adanya hubungan rasional”.
Definisi ini menunjukkan bahwa apabila suatu perbuatan dilakukan secara berulang-ulang menurut hukum akal, tidak di namakan adat. Definisi ini juga menunjukkan bahwa adat itu mencakup persoalan yang amat luas, yang menyangkut permasalahan pribadi, orang banyak, dan bisa juga dari sebab alami, hawa nafsu dan kerusakan akhlak.
Adapun Urf menurut ulama ushul fiqih adalah kebiasaan mayoritas kaum baik dalam perkataan atau perbuatan. Berdasarkan definisi ini, Musthafa Ahmad al-Zarqa’ mengatakan bahwa Urf merupakan bagian dari adat, karena adat lebih umum dari urf. Suatu urf menurutnya harus berlaku pada kebanyakan orang di daerah tertentu, bukan pada pribadi atau kelompok tertentu dan urf bukanlah kebiasaan alami sebagaimana yang berlaku dalam kebanyakan adat, tetapi muncul dari suatu pemikiran dan pengalaman. Yang di bahas para ulama Ushul fiqih, dalam kaitannya dengan salah satu dalil hukum syara’ adalah urf, bukan adat.
Para ulama Ulama Ushul fiqih membagi ‘Urf atas tiga bagian, yaitu: 
  • Di tinjau dari segi sifatnya ‘urf terbagi atas 2 macam :
  1. ‘Urf qauli, ialah ‘urf yang berupa perkataan atau kebiasaan masyarakat dalam mempergunakan lafal atau ungkapan, seperti perkataan walad, menurut bahasa berarti anak, termasuk di dalamnya anak laki-laki dan anak perempuan.
  2. ‘Urf amali, ialah ‘urf berupa perbuatan, seperti kebiasaan jual-beli dalam masyarakat tanpa mengucapkan shighat akad jual-beli. Padahal menurut syara’, shighat jual-beli itu merupakan salah satu rukun jual beli. Tetapi karena telah menjadi kebiasaan dalam masyarakat melakukan jual-beli tanpa shighat jual beli dan tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan, maka syara’ membolehkannya.
  • Di tinjau dari segi diterima atau tidaknya ‘Urf, terbagi atas:
  1. ‘Urf shahih, ialah urf yang baik dan dapat di terima karena tidak bertentangan dengan syara’. Seperti mengadakan pertunangan sebelum melangsungkan akad nikah, di pandang baik, telah menjadi kebiasaan dalam masyarakat dan tidak bertentangan dengan syara’.
  1.  ‘Urf fasid, ialah ‘urf yang tidak baik dan tidak dapat diterima, karena bertentangan dengan syara’. Seperti kebiasaan mengadakan sesajian untuk sebuah patung atau  suatu tempat yang dipandang keramat.
  •  Di tinjau dari segi ruang lingkup berlakunya, Urf terbagi 2 macam :
  1. ‘Urf ‘aam, ialah urf yang berlaku pada semua tempat, masa dan keadaan, seperti memberi hadiah (tip) kepada orang yang telah memberikan jasanya kepada kita, mengucapkan terima kasih kepada orang lain yang telah membantu kiata dan sebagainya.
  2.  ‘Urf Khash, ialah urf yang hanya berlaku pada tempat, masa atau keadaan tertentu saja. Seperti mengadakan halal bi halal yang biasa di lakukan oleh Bangsa Indonesia yang beragama islam pada setiap selesai menunaikan ibadah puasa Ramadhan, sedang pada Negara-negara Islam lain tidak dibiasakan.
Selanjutnya mengenai kehujjahan urf, Para ulama Ushul fiqih sepakat bahwa ‘urf Shahih, yaitu urf yang tidak bertentangan dengan syara’, baik yang menyangkut ‘urf ‘aam dan ‘urf khash, maupun yang berkaitan dengan ‘urf lafzhi dan ‘urf amali, dapat dijadikan hujjah dalam menetapkan hukum syara.
Dari barbagai kasus ‘urf yang di jumpai, para ulama Ushul fiqih merumuskan kaidah-kaidah fiqh yang berkaitan dengan ‘urf, di antaranya adalah :
  1. Adat kebiasaan itu bisa menjadi hukum.
  2. Tidak diingkari perubahan hukum disebabkkan perubahan zaman dan tempat.
  3.  Yang baik itu menjadi ‘urf, sebagaimana yang diisyaratkan itu menjadi syarat.
  4. Yang di tetapkan melalui ‘urf sama dengan yang di tetapkan melalui nash (ayat atau hadist).
Para ulama ushul fiqih juga sepakat bahwa hukum-hukum yang di dasarkan kepada ‘urf bisa berubah sesuai dengan perubahan masyarakat pada zaman tertentu dan tempat tertentu.
Syarat-syarat ‘Urf : Para ulama ushul fiqih menyatakan bahwa suatu ‘urf, baru dapat dijadikan sebagai suatu dalil dalam menetapkan hukum syara’ apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
  1.  ‘Urf itu (baik yang bersifat khusus dan umum maupun yang bersifat perbuatan dan ucapan), berlaku secara umum. Artinya ‘urf itu berlaku dalam mayoritas kasus yang terjadi di tengah-tengah masyrakat dan keberlakuannya dianut oleh mayoritas masyarakat tersebut.
  2. ‘Urf itu telah memasyarakat ketika persoalan yang akan ditetapkan hukumnya itu muncul. Artinya, ‘Urf yang akan dijadikan sandaran hukum itu lebih dahulu ada sebelum kasus yang akan di tetapkan hukumnya.
  3.  ‘Urf itu tidak bertentangan dengan yang di ungkapkan secara jelas dalam suatu transaksi.
  4. ‘Urf itu tidak bertentangan dengan Nash, sehingga menyebabkan hukum yang dikandung nash itu tidak bisa diterapkan. ‘Urf seperti ini tidak dapat di jadikan dalil syara’, karena kehujjahan ‘urf bisa diterima apabila tidak ada nash yang mengandung hukum permasalahan yang di hadapi.

Oke Sobat blogger, saya kira ini sudah cukup untuk pembahasan mengenai “Urf, Semoga bermanfaat buat sobat blogger!

Categorised in: ,

No comment for ‘Urf

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *