Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » HUKUM » Pernikahan Paksa (tidak ada rasa sukarela antara calon mempelai)

Pernikahan Paksa (tidak ada rasa sukarela antara calon mempelai)

(113 Views) Desember 3, 2013 12:41 am | Published by | No comment
Sebagai salah satu tanda terbesar dan nikmat teragung yang telah diberikan Allah kepada manusia adalah diciptakannya kecenderungan dalam diri manusia untuk hidup berpasang-pasangan. Seorang laki-laki diberikan naluri untuk tertarik kepada kecantikan dan kelembutan seorang perempuan, begitu juga perempuan diberikan naluri untuk tertarik kepada kegagahan dan ketegasan seorang laki-laki. Ketertarikan ini memiliki fungsi alami untuk mempertahankan dan mengembangkan kelangsungan kehidupan manusia itu sendiri. Dalam hal ini timbulah rasa kebersamaan yang mana merupakan sarana bagi seorang laki-laki memenuhi kebutuhannya yang ada pada seorang perempuan, demikian juga perempuan akan mendapatkan apa yang dibutuhkannya dalam diri seorang laki-laki.[1]
Hal ini termuat dalam Al – Qur’an surah Ar- Rum ayat 21, yang menyatakan bahwa laki-laki da perempun diberikan naluri hidup bersama-sama :
Artinya: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.[2]
Di dalam agama Islam untuk menyalurkan naluri untuk ketertarikan dan rasa untuk hidup bersama antara laki-laki dan perempuan, maka di anjurkan untuk melasanakan ibadah pernikahan atau perkawinan.
Perkawinan adalah perilaku makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa agar kehidupan di alam dunia berkembang biak. Perkawinan bukan saja terjadi di kalangan manusia, tetapi juga terjadi pada tanaman tumbuhan dan hewan. Oleh karena manusia adalah hewan yang berakal, maka perkawinan merupakan salah satu budaya yang beraturan yang mengikuti perkembangan budaya manusia dalam kehidupan masyarakat.[3]
Pernikahan atau nikah artinya adalah terkumpul dan menyatu. Menurut istilah lain juga dapat berarti Ijab Qobul(akad nikah) yang mengharuskan perhubungan antara sepasang manusia yang diucapkan oleh kata-kata yang ditujukan untuk melanjutkan ke pernikahan, sesusai peraturan yang diwajibkan oleh Islam.[4]
Di dalam pasal 1 UU no. 1 Tahun 1974 dikatakan bahwa “Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.[5]
Persoalan perkawinan adalah persoalan yang selalu aktual dan selalu menarik untuk dibicarakan, karena persoalan ini bukan hanya menyangkut tabiat dan hajat hidup manusia saja, tapi juga menyentuh suatu lembaga yang luhur, yaitu rumah tangga. Luhur, karena lembaga ini merupakan benteng bagi pertahanan martabat manusia dan nilai-nilai kehidupan yang luhur.
Nabi SAW telah menyarankan bahwa dalam memilih jodoh, seorang lelaki sebaiknya mengetahui sebelum mengajukan lamaran terhadap pasangan yang diinginkan agar tidak keliru dalam pilihannya atau salah dalam keputusannya sehingga akan merusak perkawinan.
Perkawinan sesungguhnya merupakan “Mitsaq” yang berarti ikatan yang khidmat atau kesepatakan antara suami dengan istri yang harus diketahui. Perkawinan dalam Islam hanya dijalani dengan persetujuan bebas (kerelaan) dari kedua belah pihak. Rasulullah SAW bersabda , “janda dan wanita telah dicerai tak boleh dikawinkan sampai dia mengizinkan dirinya sendiri, sedangkan anak gadis sepatutnya tidak dikawinkan sampai diperoleh persetujuannya. “ (HR. Bukhari).
Imam Bukhari dalam kitabnya menyebutkan, “Bila seorang ayah menikahkan putrinya sedangkan si anak tak menyukainya, maka perkawinan itu dapat ditolak.” Ada sebuah hadist yang diriwayatkan menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah membatalkan perkawinan semacam itu. Seorang gadis (perawan) datang menemui Nabi SAW dan mengatakan bahwa ayahnya telah menikahkannya dengan seseorang yang tak disukainya. Lalu Nabi SAW memberinya hak untuk menolak perkawinan itu. (H.R. Bukhari) [6]
Dalam kehidupan sehari pernikahan itu tidak selalu dilakukan secara sukarela oleh kedua calon mempelai, terkadang pernikahan itu dilakukan secara paksa oleh orang tua atau juga karena adanya perjodohan sehingga membuat calon mempelai tidak bahagia dalam menjalani masa pernikahannya. Namun ada juga yang bahagia setelah perkawinan walaupun sebelumnya dinikahkan secara paksa oleh orang tua.
Perjodohan yang dipaksakan atau dikenal dengan “kawin paksa” dalam arti bahasa berasal dari dua kata “kawin” dan “paksa”. Kawin dalam kamus Bahasa Indonesia berarti perjodohan antara laki-laki dan perempuan sehingga menjadi sumai dan istri, sedangkan paksa adalah perbuatan (tekanan, desakan dan sebagainya) yang mengaharuskan (mau tidak mau dapat harus). Sedangkan dalam kamus ilmiah popular paksa adalah mengerjakan sesuatu yang diharuskan walaupun tidak mau. Jadi kedua kata tersebut jika digabungkan akan menjadi kawin paksa yang berarti suatu perkawinan yang dilaksanakan tidak atas kemauan sendiri (jadi karena desakan atau tekanan) dari orang tua ataupun pihak lain yang mempunyai hak untuk memaksanya menikah.
Sedangkan secara istilah fiqih kawin paksa merupakan salah satu fenomena sosial yang timbul akibat tidak adanya kerelaan diantara pasangan untuk menjalankan perkawinan, tentunya ini merupakan gejala sosial dan masalah yang timbul ditengah-tengah masyarakat kita. Kawin paksa ini muncul tentunya banyak motiv yang melatar belakanginya, misal ada perjanjian diantara orang tua yang sepakat akan menjodohkan anaknya, ada juga karena faktor keluarga, atau bahkan ada karena calon mertua laki-laki kaya.
Secara hukum kawin paksa adalah perkawinan yang dilaksanakan tanpa didasari atas persetujuan kedua calon mempelai, hal ini bertentangan dengan pasal 6 ayat 1 Undang-undang No. 1 Tahun 1974 yang berbunyi: “Perkawinan harus didasarkan atas persetujuan kedua calon memperlai”. Syarat pernikahan pasal 6 ayat (1) Undang-undang No. 1 Tahun 1974 bahwa perkawinan harus didasarkan atas persetujuan kedua calon mempelai yang akan melangsungkan perkawinan. Adanya persetujuan kedua calon mempelai sebagai salah satu syarat perkawinan dimaksudkan agar supaya setiap orang dengan bebas memilih pasangan untuk hidup berumah tangga dalam perkawinan. Munculnya syarat persetujuan dalam Undang-undang perkawinan, dapat dihubungkan dengan sistem perkawinan pada zaman dulu, yaitu seorang anak harus patuh pada orang tuanya untuk bersedia dijodohkan dengan orang yang dianggap tepat oleh orang tuanya. Sebagai anak harus mau dan tidak dapat menolak kehendak orang tuanya, walaupun kehendak anak tidak demikian. Untuk menanggulangi kawin paksa, Undang-undang perkawinan telah memberikan jalan keluarnya, yaitu suami atau istri dapat mengajukan permbatalan perkawinan menunjuk pasal 27 ayat (1) apabila paksaan untuk itu dibawah ancaman yang melanggar hukum.
Perjodohan adalah salah satu cara yang ditempuh masyarakar dalam menikah. Tak ada ketentuan dalam syariat yang mengharuskan atau sebaliknya melarang perjodohan. Islam hanya menekankan bahwa kehendak seorang Muslim mencari calon istri yang shalihah dan baik agamanya, begitu pula sebaliknya.
Ringkasnya, perjodohan hanyalah salah satu cara untuk menikahkan. Orang tua dapat menjodohkan anaknya. Tapi hendaknya meminta izin dan persetujuan dari anaknya, agar pernikahan yang diselenggarakan, didasarkan pada keridhaan masing-masing pihak, bukan keterpaksaan. Pernikahan yang dibangun diatas dasar keterpaksaan, jika terus berlanjut, akan  mengganggu keharmonisan rumah tangga.





[1]Dedi Susanto, Kupas Tuntas Masalah Harta Gono-gini, Cet-1 (Jakarta: Pustaka Yustisia, 2011), hlm. 2
[2] Departemen Agama, al- Qur’an dan terjemahnya, (Jakarta: Magfirah Pustaka, 2006), hlm. 406
[3] Hilman Hadikusuma, Hukum Perkawinan Indonesia, (Bandung: Cv. Mandar Maju, 2007), Hlm. 1  
[4]  http://id.wikipedia.org/wiki/Pernikahan_dalam_Islam. diakses pada Jum’at, 21 Juni 2013, pada pukul 11:25
[5] Op.cit,  H. Hilman Hadikusuma, hlm. 6
[6] Abdur Rahman I. Perkawinan Dalam Syariat Islam. (Jakarta: Rineka Cipta. Cet 1. 1992) hal 10
Categorised in: ,

No comment for Pernikahan Paksa (tidak ada rasa sukarela antara calon mempelai)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *